Selasa, 08 Oktober 2013

Gelar Seni dan Budaya Sawunggaling Lidah Wetan Surabaya



Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

 
by : nongklek aza, minggu 29 Sept'13 


‘Ojo ngaku Arek Suroboyo nek gak ngerti Sawunggaling’
Emang bener sih kata2 itu. Masak orang Surabaya gag ngerti Sawunggaling? Mungkin sebagian orang luar kota bertanya tanya tentang sawunggaling. Wajarlah kalo itu….


Kemarin hari minggu tgl 29 Sept’13 mungkin hari yang paling bersejarah bagi masyarakat Lidah Wetan Surabaya. Karena pada hari itu di wilayah Lidah Wetan Surabaya telah diresmikan makam Sawunggaling (berada di masjid Al-Kubro Lidah Wetan tepatnya di jalan Lidah Wetan IV) sebagai salah satu cagar budaya Indonesia. Heemmm…..perasaan haru dan bangga sebagai arek Lidah Wetan Sawunggaling saat prasasti itu di tanda tangani secara resmi.
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Banyak acara yang disuguhkan dalam gelar itu. Diantaranya kirab/karnaval, teater pendek sawunggaling, lomba solo’ dan panah sawunggaling, doa bersama/istighosah, dan wayang kulit. Mungkin sudah adatnya atau mitos yang di bawah masyarakat Lidah Wetan kale ya…, sebelum gelar acara pasti dilakukan ritual atau sungkem dulu kepada danyang Lidah Wetan (yang dikenal dengan sebutan mbah Suroh) agar diberi kelancaran dalam prosesi acara gelar budaya tersebut. 


Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Mungkin sebagian orang ada yang percaya atau sebaliknya gak percaya karena takut menjurus ke sirik. Tapi kenyataan berkata lain. Dengan mata sendiri aku menyaksikan dengan tiba2 salah satu anggota kirab (bapak2) yang bertugas membawa polo pendem (segala makanan jenis umbi2an) jatuh tak sadarkan diri. Padahal bapak tersebut dalam keadaan belum menggotong peti yang berisi polo pendem tersebut, jadi masih dalam keadaan santai bersama peserta kirab lainnya. Kontan kejadian heboh itu mengundang banyak perhatian. Setelah sekian menit berlangsung, bapak tersebut sadar kembali. Dan apa yang dikatakan bapak tersebut ???? ternyata beliau melihat seorang wanita yang sangat cantik sekali bersama anak-anak kecil. Dan menurutnya lagi, wanita tersebut sangat lah asing  dan bukanlah warga sekitar sawunggaling. Nah lo…… Wallahu'alam bissawab.......والله أعلمُ بالـصـواب

 
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling adalah perwujudan dari prakarsa segenap masyarakat Lidah Wetan dan sekitarnya beserta para pemuda pemudi Lidah Wetan, ibu2 PKK Lidah Wetan, bapak2 pecinta sepeda kuno, segenap perangkat kelurahan Lidah Wetan, mahasiswa dari unesa, dan segenap para jurnalis dan fotografer dari berbagai media baik cetak maupun elektronik. Dan apa yang mereka impikan ternyata terwujud dan sukses dalam mewujudkan gelar budaya tersebut. 

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

 
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


 
Add caption

 
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

 
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

 
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza
 
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Dalam acara tersebut, kita disuguhkan dengan gelar teater pendek yang mengulas balik tentang sosok Sawunggaling dan ini merupakan acara pembuka. Demikian juga dengan kirab/karnaval di haruskan memakai kostum tempo dulu yang berkaitan dengan sawunggaling. Ratusan warga sekitar yang memeriahkan gelar budaya tersebut terlihat antusias, tumpah ria dan tanpa pamrih mereka mengikuti jalan nya acara tanpa tending aling2. Mereka berjalan sejauh (sekitar) 3 km yang dimulai dari masjid Al-Kubro dan berakhir di kelurahan Lidah Wetan. Para peserta kirab sendiri terdiri dari rombongan reog ponorogo, teater unesa dalam bentuk prajurit dan pengawal kerajaan, ibu2 dan remaja2 berkostum tempo dulu, rombongan bapak2 pencinta sepeda kuno dan ratusan warga yang berkostum unik dan kuno. Acara puncak sendiri adalah lomba solo’ dan panah yang diulas balik sebagai perwujudan perjuangan Sawunggaling dalam merebut kursi adipati Surabaya dalam cengkraman kompeni belanda.

 
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza
 
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

 
Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Untuk lebih detail nya tentang siapa Sawunggalling yang sebenarnya, aku akan kilas balik sesuai dengan cerita yang beredar….langsung aja ya…ini history nya….

Sawunggaling

Dulu nama Sawunggaling adalah Joko Berek. Dia dilahirkan oleh seorang perempuan desa yang bernama Dewi Sangkrah. Pada suatu hari si Joko Berek merengek karena selalu di olok-olok teman sepermainannya bahwa dia adalah anak haram karena tidak memiliki ayah kandung. Karena jengkel dan marah, dia menyampaikan uneg2nya kepada ibunya.. Dewi Sangkrah menyadari perasaan Joko Berek dan beliau sudah merasa pantas untuk menceritakan kepada dia siapa sebenarnya ayah kandungnya. Dengan perasaan berat dan tegas, Dewi Sangkrah berkata bahwa ayah kandungnya adalah Jayengrana seorang Adipati di Kadipaten Surabaya.

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza

Singkat cerita, Joko Berek berangkat ke Kadipaten Surabaya untuk menjumpai ayahnya. Tapi tak mudah untuk memasuki kadipaten Surabaya, karena para prajurit penjaga tidak memperbolehkan Joko Berek masuk. Maka terjadilah pertarungan diantara mereka. Pertarungan itu diketahui oleh putera Adipati Jayengrana yang bernama  Sawungsari dan Sawungrana dan mereka pun melerainya. Karena Joko Berek kokoh pada pendiriannya yaitu ingin bertemu dengan Jayengrana maka dua putera Jayengrana ini pun menyerang Joko Berek dan menyuruh agar pulang kembali kerumahnya. Tapi Joko Berek tidak mau dan terjadilah perkelahian. Karena mendengar adanya keributan di luar, Adipati Jayangrana keluar dan menyakan tentang gerangan apa yang terjadi. Joko berek menjelaskan bahwa ia ingin bertemu dengan ayahandanya yang bernama Jayengrana. Tetapi Adipati Jayengrana gak percaya begitu saja. Beliau menanyakan tentang ibu Joko Berek dan bukti bahwa ia adalah puteranya. Maka Joko Berek menyebutkan bahwa ia putera dari Biyung Dewi Sangkrah dan mengeluarkan selendang Cinde Puspita yang dulu oleh Adipati Jayengrana diberikan pada Dewi Sangkrah yang dicintainya. Akhirnya Adipati Jayengrana percaya bahwa Joko Berek adalah anaknya. Dipeluknya Joko Berek dan dikenalkan kepada kedua saudaranya yaitu Sawungrana dan Sawungsari. Jaka Berekpun tinggal di kadipaten dan berganti nama menjadi Sawunggaling

Suatu hari Kadipaten Surabaya kedatangan kompeni belanda yang dipimpin oleh Kapten Knol yang membawa surat dari Jenderal De Boor yang isinya mengatakan bahwa kedudukan adipati di Surabaya akan dicabut karena Adipati Jayengrana tak mau bekerjasama dengan kompeni belanda. Tetapi pada saat itu,ada pengumuman bahwa di alun-alun Kartasura akan diadakan sayembara sodoran (perang tanding prajurit berkuda dengan bersenjata tombak) dengan memanah umbul-umbul yang bernama umbul-umbul Yunggul Yuda.

Adipati Jayengrana yang sudah dicabut kedudukannya itupun menyuruh kedua anaknya agar giat berlatih untuk mengikuti sayembara itu. Pemenang dari sayembara itu akan diangkat menjadi adipati di Surabaya. Pada hari sayembara diadakan, tanpa memberitahu Sawunggaling, Jayengrana dan kedua puteranya pergi ke Kartasura.dan tanpa setahu merekapun Sawunggaling juga pergi ke Kartasura. Sebelum berangkat Sawunggaling pulang ke desa meminta do’a restu dari ibu, kakek dan neneknya.


Sayembara memanah umbul-umbul itu ternyata hanya diikuti oleh Sawungrana dan Sawungsari, tetapi keduanya gagal tak bisa menjatuhkan umbul-umbul Tunggul Yuda yang dipasang di Menara Galah. Karena tak ada pemenangnya, Sosra Adiningrat yang bertindak sebagai panitia pelaksana lomba, segera mengadakan pendaftaran lagi.
Pada saat itu ada seorang pemuda yang ikut mendaftar dan ternyata dialah Sawunggaling dan diapulalah satu-satunya yang bisa menjatuhkan umbul-umbul Tunggul Yuda. Dengan kemenangan ini selain diangkat menjadi adipati, Sawunggalingpun mendapatkan puteri dari Amangkurat Agung di Kartasura yang bernama Nini Sekat Kedaton.

Keberhasilan sawunggaling itu membuat iri dua saudaranya. Sawungrana dan sawungsari ingin mencelakakan sawunggaling, pada saat pesta besar-besaran untuk merayakan pengangkatan Sawunggaling sebagai adipati di Surabaya, secara diam-diam mereka memasukkan bubuk racun ke dalam gelas minuman Sawunggaling.namun perbuatan itu diketahui oleh Adipati Cakraningrat dari Madura. Ketika  minuman itu disodorkan pada Sawunggaling,Adipati Cakraningrat pura-pura menubruk Sawunggaling yang mengakibatkan terjatuhnya gelas berisi racun itu. Dengan cepat, disambarnya tangan Adipati Cakraningrat dan ditariknya keluar dari kadipaten. Dengan marah sawunggaling menanyakan kejadian tersebut. Adipati Cakraningrat menjelaskan bahwa minuman tadi beracun dan yang membubuhi racun adala saudaranya sendiri yang bekerjasama dengan kopeni belanda. Sejak saat itu Sawunggaling bertekad memerangi belanda, dia selalu menambah kekuatan laskarnya. Dalam suatu peperangan yang sengit Sawunggaling berhasil membunuh Jenderal De Boor.

Nah….begitulah sobat….kisah heroic dan asal usul sawunggaling menurut cerita yang beredar di masyarakat lidah wetan. Maaf kalau ada yang kurang atau lebih, atau ada tokoh/tempat yang salah penulisannya.

Mengapa makam sawunggaling ada di Lidah Wetan Surabaya? Menurut cerita sih katanya Sawunggaling sakit parah di daerah kupang dan meninggal disana, lalu dimakam kan di Lidah Wetan ….begitu ceritanya….

Gelar Budaya Sawunggaling
by : nongklek aza


Oiya…sukses buat warga Lidah Wetan Surabaya dan sekitarnya yang telah mengadakan acara Gelar Budaya Sawunggaling.

Kamis, 13 Juni 2013

KUBURAN PENELEH ( makam Belanda ) SURABAYA






by : Nongklek Aza
Rabu, 22 Mei 2013




Peneleh merupakan salah satu kawasan asli Kota Surabaya. Nama Peneleh lahir di zaman Kerajaan Singosari. Asal kata “peneleh” berasal dari lokasi ini yang dahulunya merupakan tempat bersemayamnya pangeran pilihan (pinilih), putra Wisnu Wardhana yang memiliki pangkat setara dengan bupati. Pangeran tersebut kemudian diangkat menjadi pemimpin di daerah yang berada antara Sungai Pegirian dan Kalimas ini. Kawasan Peneleh sendiri merupakan salah satu bagian sejarah Kota Surabaya karena di dalamnya memiliki beberapa peninggalan bersejarah diantaranya masjid kuno Peneleh, rumah HOS Cokroaminoto (tempat proklamator Ir. Soekarno tinggal pada saat beliau bersekolah), perkampungan tua, Pasar Peneleh (salah satu tempat di Jawa dimana saat itu buah anggur dapat dibeli) serta Makam Peneleh yang merupakan salah satu makam tertua di Jawa Timur.




Makam Peneleh, merupakan sebuah komplek pemakaman yang dibangun tahun 1814 dan menempati areal seluas 4,5 hektare. Meskipun kondisinya saat ini sangat kumuh dan memprihatinkan, namun masih menyisakan sisa-sisa eksotisme masa lalu. Banyak hal yang bisa digali di dalamnya. Detail ornamen berlanggam gothic dan doric, patung-patung berkarakter Romawi (meskipun sebagian besar sudah tidak dalam kondisi utuh) hanyalah sebagian kecil dari keindahan masa lalu yang masih bisa ditelusuri. Kisah hidup mereka yang meninggal bisa ditemukan di prasasti batu marmer ataupun besi cor.



Makam salah seorang presiden perusahaan VOC yang memiliki papan dari pinus India merupakan salah satu di antaranya. Beberapa jejak sejarah penting yang masih bisa ditelusuri antara lain, kuburan Gubernur Jenderal Pieter Merkus, satu-satunya pejabat tertinggi di Hindia Belanda yang dimakamkan di Peneleh. Gubernur Jenderal ini meninggalkan teka-teki di akhir hidupnya. Dia merupakan satu-satunya pejabat tertinggi negeri ini (saat itu) yang meninggal pada saat menjabat.
Pilihannya untuk pindah ke Surabaya pada saat sakit masih menjadi tanda tanya. Pejabat ke 47 ini lahir di Naarden, 18 Maret 1787 dan meninggal pada 2 Agustus 1844 pada umur 57 tahun. Prasasti di atas makam Merkus yang berusia hampir 170 tahun masih jelas terbaca. Prasasti tersebut berbahasa Belanda yang jika diartikan berbunyi : Paduka yang mulia Pieter Merkus, komandan pasukan tempur Hindia, veteran perang Prancis, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, memimpin tanah dan laut harapan Tuhan dan lain-lain. Beliau wafat di Simpang Huis (Istana Simpang atau Grahadi) 2 Agustus 1844. Menurut salah satu ahli waris pemuka Belanda yang dimakamkan di Peneleh itu, Rob van de Ven Renardel, keputusan Merkus di akhir hayatnya menimbulkan teka-teki di Sejarah Belanda.



Merkus, kata Rob, yang saat itu tinggal di Batavia memutuskan tinggal di Istana Bogor ketika sakit. “Namun ketika kesehatannya makin buruk dia memilih tinggal di Istana Simpang di Surabaya,” kata Rob dalam Majalah Monsun, edisi 10 April 1999. Perjalanan di Batavia-Surabaya yang melelahkan hampir sepekan itu justru membuat sakitnya bertambah parah. Ada dugaan Merkus ingin beristirahat sehingga memilih kota panas. Namun ada pandangan lain yang menyakini bahwa Merkus disingkirkan dari kekuasaan dan diasingkan oleh Belanda karena dianggap tidak loyal. Selain Merkus masih banyak tokoh-tokoh penting lain yang dimakamkan di sini seperti Pendeta pioner Ordo Yesuit di Surabaya, Martinus van den Elsen, yang berada di seberang pintu masuk. Makam puluhan biarawati Jalan Ursulin (Jl Darmo). Komandan perang Indochina, Neubronner van der Tuuk. Bahkan ada pula kuburan Rambaldo, orang pertama yang menjadi penerbang di Hindia. Makam arsitek Jembatan Porong, Ibrahim Simon Heels Berg hingga makam Wakil Kepala Mahkamah Agung, PJN de Perez. Namun kondisi komplek pemakaman yang tidak terawat menimbulkan keprihatinan tersendiri. Sisa-sisa makam dan prasasti yang berserakan, lingkungan kumuh merupakan sedikit gambaran kondisi makam saat ini. Memang, kompleks ini merupakan makam orang-orang Belanda, namun apa yang ada di dalamnya merupakan sebuah bukti yang bisa menjadi benang merah sejarah keberadaan Kota Surabaya. Sebuah pekerjaan rumah bersama yang harus segera dicari solusinya oleh semua komponen masyarakat Surabaya.



Sumber bahan:
- “Menyelamatkan Makam Peneleh, Dari Serdadu sampai Gubernur Jenderal”, Judi Prasetyo, Surya Online 25 Mei 2009
- Djawa Tempo Doeloe, Priyambodo Prayitno, blog